Filosofi Kabut

Filosofi Kabut

7 Jan 2017

Dalam dekapan subuh aku tergesa-gesa untuk sholat dan kemudian mandi. Hari itu hari pertama menjadi seorang tester di lembaga tes psikologi, sesuatu yang pertama pasti selalu membuat diri menjadi eksaited. Diluar perkiraan, terjadi gangguan dalam jadwal mandi karena menyesuaikan dengan tetangga-tetangga kos yang lain, alhasil dalam 20 menit aku harus mandi, dandan, pake jilbab dan persiapan barang-barang untuk pergi ke sebuah sekolah. Aku kira ini rekor terbaikku. Bisa persiapan hanya dalam 20 menit. 

 Masih dalam dekapan dingin subuh dan rintikan air hujan yang turun dengan manja, aku langsung meluncur ke kantor dan bersiap untuk segera ke sekolah tujuan, di Ponorogo. Tepat pukul 06.00 WIB kami berangkat. Matahari sudah mulai memperlihatkan ronanya, walau kabut masih dimana-mana. Waktu yang diperlukan sekitar 3-4 jam kalo dari Solo. Sejam pertama perjalanan sudah banyak yang tertidur, begitu juga teman sebangkuku. Aku yang jarang bisa tertidur di mobil, akhirnya hanya bisa mengalihkan pandangan keluar jendela. Alangkah terkejutnya aku saat itu….

 Hamparan sawah sejauh mata memandang, dengan burung-burung yang hinggap di ayunan kabel listrik ternyata betul adanya. Pagi yang indah bisikku. Kapan lagi bisa menikmati pemandangan seperti ini. Sedikit demi sedikit batas pandang mulai berkurang berganti kabut putih mencekam. Aku hanya semakin lekat memandanginya. Sambil berbisik Subhanallah, Maha Besar Allah yang telah menciptakan indahnya pagi ini. 

 Ingin rasanya aku turun dari mobil, berlari menikmati kabut yang begitu dingin, menyentuh kabut yang abstrak namun benar-benar dingin dan terasa basah di tangan. Ah indahnya. Aku mengenang kembali masa-masa dimana aku dulu suka sekali menembus kabut dipagi hari dengan sebuah sepeda demi sebuah harapan yang lebih baik. wkwk tidak sebegitunya juga sih. Intinya saat itu, aku harus melakukan ini demi sebuah impian yang ada dalam hatiku.

 Waktu itu, disaat masih menggunakan seragam biru putih, aku akan sangat berbahagia sekali jika bangun dipagi hari ternyata kabut di samping rumah cukup tebal. Aku akan lebih semangat untuk pergi sekolah jika kabut tebal menyelimuti jalan, dedaunan dan semua hal yang ada di alam. Aku suka sekali menembus kabut, karena ketika dalam kabut, aku meyakini satu hal, ketika apa yang ada didepan kita terasa buntu dan tak dapat terlihat, jangan takut, maju saja terus, maka sedikit demi sedikit jalan itu akan terlihat. Yang perlu dilakukan hanyalah hadapi, dan kemudian nikmatilah dinginnya kabut yang mulai menyentuh lembut kulit tangan kita. Sebagaimana hidup, hadapi dan nikmatilah bagaimanapun hidup ini. 

Hal yang paling menyenangkan lagi adalah ketika tiba-tiba saya menjadi seorang nenek dengan alis putih, bulu mata putih dan menjadi wanita berkumis tipis berbalut kabut. Aku akan senyum-senyum sendiri dan berharap itu akan menyertaiku hingga dalam kelas, supaya aku dapat menunjukkannya pada teman-temanku. Walau itu belum pernah berhasil, tapi aku telah meyakinkan mereka dan membuat mereka mencoba hal yang sama dan tertawa bersama.

Sebuah kabut yang membawaku mengingat filosofi lamaku. Sebuah perjalanan untuk mengenang kembali sesuatu yang telah terlupa. Sebuah renungan dimasa ababil yang sebenarnya sangat bermanfaat untuk saat ini, saat dimana ketidakpastian akan kehidupan terus berlanjut. Kembali mengingat bahwa ketika apa yang ada didepan kita terasa buntu dan tak dapat terlihat, jangan takut, maju saja terus, maka sedikit demi sedikit jalan itu akan terlihat. Kabut akan menghilang seiring datangnya sebuah sinar dari hamba Allah yang tentu saja atas perintah Allah dalam wujudnya sebagai matahari. Maka jalan kehidupan itu juga tentu akan semakin terlihat jelas jika Allah telah meridhoi dan kemudian mengirimkan hamba-hamba terbaiknya untuk ikut menyinarinya 😊Semoga


TAGS cerita kabut indahnya pagi pagiku


-

Author

Nama saya Ira Puspita, tapi kadang kutulis Ira Pusspita. karena Ira puspita sudah terlalu banyak, jadi bingung kalau ada yang nyari. (kalau ada sih). aku bukan gadis yang pinter. pemikiran juga standar. kepribadian juga low profil. tapi satu hal konyol yang ada diotakku, "ketika suatu saat nanti ada yang mengetik nama ira puspita di gugel, maka yang muncul adalah aku, bukan ira puspita yang lain". entah... aku hanya ingin berbagi apa saja yang bisa kubagi, walau itu mungkin ga penting. hanya sekedar catatan hidup sajaaa, karena kematian adalah kawan terdekat kita.

Search

Recent Post

Home Perihal
na na na na © 2017 All Right Reserved. Platform Blog Lokal Asli Indonesia