Biarkanlah Jiwamu memilih Jalannya

Biarkanlah Jiwamu memilih Jalannya

8 Sep 2016

Kuliah kerja magang memang menjadi suatu kegiatan yang cukup ditunggu-tunggu seperti halnya KKN. Entah kenapa kegiatan belajar diluar selalu lebih menyenangkan bagiku. Sejak awal magang aku sudah bertekad untuk magang di kantor lelang. Alasannya simpel, karena katanya di kantor lelang penuh dengan konspirasi dan katanya juga banyak orang-orang sipitnya. Kata-kata ini belum teruji validitasnya, realibilitasnya juga entah gimana. Tapi dua alasan ini cukup membuatku tak melirik tempat lain. Alhasil hari itu aku mengajak dua kawanku yang lain untuk mencari tahu apakah boleh magang di kantor lelang tersebut. Kami belum membawa surat magang, karena niat kami ingin menanyakan secara lisan dulu, kalau boleh barulah buat surat, karena ngurus surat itu sulit, kalau udah buat tapi ga diterimakan sedih, pikir kami.

            Ketika ijin secara lisan didapat, kami uruslah ijin tertulisnya. Namun ternyata, kantor itu dimasukin surat oleh kawan kelompok lain, teranglah kelompok itu langsung diterima. wkwk. Saat itu yang ada diotakku hanyalah satu kata. KECEWA. Buat pengalaman aja, kalau pengen serius itu, langsung diresmiin aja pake surat, jangan cuma omong-omong aja. Seserius apapun, yang membawa kepastian lebih dulu, dialah yang akan diterima. Duh.. paansih.

            Kemudian, aku hanya mengikuti alur kedua kawanku, diajak ke kantor pajak ok. diajak ke perusahaan ok. diajak ke bank syariah juga ok. aku ga ada gairah untuk segera cari yang lain. hingga akhirnya tiba saatnya. tempat magang harus segera diberitakan ke prodi seminggu kedepan. saat itulah aku mulai bingung, aku ga boleh berlarut-larut begini pikirku.

            Siang itu ada kuliah dengan salah satu dosen favoritku, entah kenapa aku menganggap dosenku yang satu ini cukup spesial, karena dia sering menyisipkan ideologinya disela-sela pembelajaran. Ideologinya itu keluar dari pembahasan, tapi kerennya selalu terlihat nyambung dengan pembelajaran. Aku sering tertidur dalam setiap mata kuliah karena tidak nyambung, tapi akan segera bangun ketika bapak ini mulai bercerita tentang kondisi sosial masyarakat. perpolitikan indonesia, perjuangan mahasiswa dan lain sebagainya.

            Saat itu, beliau bilang kalau magang di kelurahan mungkin keren. Seketika itu juga, hari berikutnya aku langsung mencari kelurahan yang kira-kira prospek. dan alhasil, kelurahan pertama yang aku masuki langsung menerimaku. Aku tidak menyadarinya, kalau aku terlalu mengikuti kata-kata bapak dosenku yang satu ini. Hingga kawanku setimlah yang menyadarkannya. wkwk. Bagaimana lagi aku ga ada greget untuk magang di perusahaan, di kantor perpajakan, apalagi di bank. hem,… mendinglah aku disini, minimal aku masuk ke sebuah hal yang dipilihkan oleh seseorang yang memiliki kesamaan pandang pikirku. mungkin juga aku akan suka disini. hanya itu pikiranku saat itu. sungguh naif sekali. aku merasa seperti robot. ah entahlah.

            Alhasil, tibalah hari pertamaku di Kelurahan, yaitu Kelurahan Sriwedari. Hari demi hari aku merasakan hal yang menyenangkan, kami dapat ilmu baru. Orang-orang di kelurahan ini sangat berbeda drastis dari bayangan kelurahan dalam otakku sebelumnya. Tak ada satupun kegiatan yang mencurigakan. Kami hidup bahagia. Eaaaak. Pak lurahnya lucu, pribadi yang menyenangkan, aku kira dia memiliki golongan darah O, dan memang dia memiliki golongan darah O, aku mengetahuinya diakhir kegiatan magang kami. Ahai, betulkan. Pikirku.

            Hingga akhirnya aku merasa mereka adalah keluargaku. Aku bertanya kenapa mereka begitu bertanggung jawab ya dalam masalah keuangan, padahal diawal masuk aku sudah underestimate, karena bayangan yang ada adalah kelurahanku di desa. wkwk. usut punya usut, sistem kelurahan dan sistem kepala desa itu beda. Dikelurahan, rolling jabatan adalah hal biasa, tapi jika kades, maka dia dipilih atas dasar pemilu. Nha maka dari itu, sistem pengelolaan keuangannyapun beda, struktur organisasinya ada yang berbeda pula. Kemudian aku berfikir, kenapa ga pake sistem kelurahan semua aja ya, kan lebih bagus, terbukti lebih bersih pikirku. Aduh… Sadah deh. ini baru satu kejadian jadi belum bisa diambil kesimpulan pikirku lagi.

            Tapi coba bayangkan dan renungkan lagi, bisa jadi pengelolaan dengan sistem kelurahan adalah sesuatu solusi bagi ketidaktransparanan dana desa. bayangkan satu desa 1 milyar. padahal SDMnya entahlah mampu atau tidak. Cukup. Aku jadi ingat, beberapa waktu yang lalu aku sempat berfikir. Andai saja mahasiswa diberi kesempatan untuk ikut ambil bagian mengurus desa, didesa masing-masing tepatnya, mungkin bisa lebih baik. Mahasiswa adalah seorang idealis. aku yakin jika dia diberi kesempatan khusus untuk mengawasi dana desa dan memiliki kewenangan untuk mengevaluasi, staf di kantor desa bisa lebih merasa terawasi dan akan lebih tertib. Tidak hanya itu, tidak dapat diingkari bahwa SDM desa cukup kurang, alangkah baiknya jika mahasiswa bisa membantu kantor desa. Ah entahlah, aku takut jika malah mahasiswanya yang tidak akan kuat dan malah terwarnai oleh birokrasi dan akan menjadi penerus mereka.

            Tenang, tidak semua kepala desa seperti itu kok, namun ada juga kok yang kaya gitu. Aku cukup terkesan dengan kepala desa di salah satu daerah di kalimantan yang beberapa waktu lalu muncul di TV. beliau memberi penjelasan tentang desa mandirinya, terlihat sekali bahwa beliau berfikir matang dan jauh kedepan, sehingga desanya yang tadinya melegalkan pembalakan liar, bisa bergandengan tangan untuk menghentikan pembalakan liar dan menjadi peduli dengan kelestarian lingkungan. Wawasan globalnyapun cukup luas, terlihat dari keinginannya dalam memwujudkan cita-cita desanya untuk menjadi penghasil utama rotan dari kalimantan. Subhanallah.

            Kembali ke masalah utama, sistem kelurahan atau menerjunkan mahasiswa bisa dijadikan bahan kajian. Maybe.

            Hingga tiba suatu ketika, aku belajar tentang pentingnya lingkungan kerja atau budaya organisasi dalam menjaga komitmen karyawan dan hubungan antar karyawan. Sudah terlalu lama hidup bahagia dengan lingkungan kerja yang mendukung dan sevisi membuatku merasa kecewa ketika ada orang diluar kelurahan yang membahas tentang kecurangan yang akan dilakukannya.

Seketika itu juga aku membayangkan, Aku yakin aku akan banyak perang hati dan pikiran ketika berada dilingkungan orang itu, dan mungkin bisa jadi aku akan tidak serius membantunya. dan mungkin auraku akan makin buruk ketika dalam lingkungan seperti itu, hanya banyak menggerutu dan tidak bisa melakukan apa-apa. Merasa pengecut. dan kemudian aku sadar dari hayalanku.

            Tidak bisa dipungkiri bahwa bekerja perlu menggunakan hati. Pekerjaan apapun itu. Pilihlah yang sesuai hatimu. Jika bertentangan dengan hati, lebih baik hindarilah, daripada jiwamu terkungkung dan rusak olehnya. Biarkanlah jiwamu menentukan jalannya, karena ketika bekerja dengan hati dan jiwa, kreatifitas akan muncul tiada henti. Solusi akan muncul tiada hentinya. Hasil kerjapun membahagiakan. hati pikiran juga tidak perang. Bekerjalah yang Bahagia. Pengalaman Magangku. 


TAGS magang magang di kelurahan kelurahan sriwedari dunia kerja lingkungan kerja mendukung


-

Author

Nama saya Ira Puspita, tapi kadang kutulis Ira Pusspita. karena Ira puspita sudah terlalu banyak, jadi bingung kalau ada yang nyari. (kalau ada sih). aku bukan gadis yang pinter. pemikiran juga standar. kepribadian juga low profil. tapi satu hal konyol yang ada diotakku, "ketika suatu saat nanti ada yang mengetik nama ira puspita di gugel, maka yang muncul adalah aku, bukan ira puspita yang lain". entah... aku hanya ingin berbagi apa saja yang bisa kubagi, walau itu mungkin ga penting. hanya sekedar catatan hidup sajaaa, karena kematian adalah kawan terdekat kita.

Search

Recent Post

Home Perihal
na na na na © 2017 All Right Reserved. Platform Blog Lokal Asli Indonesia